INTERNASIONAL || ONTV.CO.ID —Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dikabarkan marah besar setelah empat pejabat tinggi ditahan menyusul kegagalan peluncuran kapal perang terbaru negara itu. Insiden ini terjadi pada 21 Mei 2025 di galangan kapal Chongjin, saat kapal perusak seberat 5.000 ton mengalami kecelakaan serius dan nyaris tenggelam.
Menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), keempat pejabat yang ditahan adalah Ri Hyong Son, Wakil Direktur Departemen Industri Amunisi Komite Sentral Partai; Kang Jong Chol, Kepala Insinyur di Galangan Kapal Chongjin; Han Kyong Hak, Kepala Bengkel Konstruksi Lambung; serta Kim Yong Hak, Wakil Manajer Administrasi di galangan kapal yang sama.
Kim Jong Un menyebut insiden ini sebagai “tindakan kriminal akibat kelalaian mutlak dan empirisme tak ilmiah”, serta mengutuk para perancang dan teknisi yang gagal mengikuti prinsip-prinsip teknik yang benar dalam membangun kapal tersebut.
Kegagalan ini tidak hanya mencoreng citra militer Korea Utara, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas dan keselamatan program pertahanan negara tersebut. Pemerintah Korea Utara kini tengah melakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab utama kecelakaan dan langkah-langkah perbaikan yang harus diambil.
Sementara itu, pihak militer Korea Selatan menduga bahwa pengembangan kapal perang ini dilakukan dengan bantuan Rusia, sebagai bagian dari kerja sama militer antara kedua negara.
Dengan penahanan para pejabat ini, Kim Jong Un menunjukkan ketegasannya dalam menghadapi kegagalan proyek strategis negaranya. Namun, masih belum jelas apakah akan ada tindakan lebih lanjut terhadap pihak-pihak lain yang terlibat dalam proyek ini.
Pemerintah Korea Utara belum memberikan pernyataan resmi terkait nasib kapal perang yang mengalami kecelakaan tersebut, tetapi laporan menyebutkan bahwa proses pemulihan keseimbangan kapal sedang berlangsung.
Perkembangan lebih lanjut dari kasus ini masih dinantikan, sementara dunia internasional terus mengamati langkah-langkah yang akan diambil oleh rezim Kim Jong Un dalam menghadapi krisis ini.***












