InternasionalNews

Skandal Telepon dan Jatuhnya Sang “PM Cantik”: Paetongtarn Shinawatra Dimakzulkan di Tengah Krisis Diplomatik

×

Skandal Telepon dan Jatuhnya Sang “PM Cantik”: Paetongtarn Shinawatra Dimakzulkan di Tengah Krisis Diplomatik

Sebarkan artikel ini

INTERNASIONAL || ONTV.CO.ID — Dalam waktu kurang dari setahun menjabat, Perdana Menteri termuda dan paling disorot di Thailand, Paetongtarn Shinawatra (38), resmi dinonaktifkan dari jabatannya oleh Mahkamah Konstitusi. Putri dari mantan PM kontroversial Thaksin Shinawatra itu tersandung skandal diplomatik yang mengguncang Negeri Gajah Putih—semuanya bermula dari satu panggilan telepon.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, rekaman percakapan pribadi antara Paetongtarn dan mantan PM Kamboja, Hun Sen, bocor ke publik dan memicu badai politik. Dalam rekaman berdurasi 17 menit itu, Paetongtarn terdengar menyapa Hun Sen dengan sebutan “paman” dan meminta agar tidak mendengarkan “pihak lain” di Thailand, termasuk seorang jenderal militer yang disebutnya “hanya ingin terlihat keren”.

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Pernyataan itu dianggap melemahkan posisi militer Thailand dan memicu kemarahan publik serta parlemen konservatif. Tak butuh waktu lama, 36 senator mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi, menuduh Paetongtarn melanggar etika dan merendahkan kedaulatan negara.

Mahkamah pun bertindak cepat. Pada 1 Juli 2025, Paetongtarn dinyatakan non-aktif dari jabatannya sebagai perdana menteri hingga proses penyelidikan selesai. Meski demikian, ia masih bertahan di kabinet sebagai Menteri Kebudayaan hasil reshuffle terbaru.

Skandal ini juga memicu efek domino: partai koalisi utama menarik dukungan, ribuan demonstran turun ke jalan, dan Thailand kembali terjebak dalam pusaran ketidakpastian politik. Dalam tiga hari, negara ini bahkan sempat memiliki tiga figur berbeda yang mengisi kursi perdana menteri sementara.

Dalam pernyataan publiknya, Paetongtarn mengaku menerima keputusan Mahkamah dengan lapang dada.

“Saya ingin menegaskan bahwa saya selalu berniat melakukan yang terbaik untuk negara saya,” ujarnya.

Namun, banyak yang menilai skandal ini bukan sekadar soal etika diplomatik. Ini adalah babak terbaru dari drama panjang antara dinasti Shinawatra dan kekuatan konservatif Thailand—sebuah pertarungan lama yang kini kembali memanas.***

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Tinggalkan Balasan