IDRAMAYU II ONTV.CO.ID – Proyek pelebaran Jalan Provinsi Jangga–Cikamurang di wilayah Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, terus menjadi perhatian publik. Selain sebagai upaya peningkatan infrastruktur jalan, proyek yang didanai Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan mobilitas masyarakat di wilayah tersebut.(30/5/2026)
Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Indramayu, Atim Sawano, menilai proyek pelebaran jalan tersebut merupakan langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
“Ini merupakan proyek Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang bertujuan untuk kepentingan masyarakat luas. Infrastruktur yang lebih baik tentu akan berdampak pada peningkatan perekonomian dan kelancaran mobilitas warga,” ujar Atim, Sabtu (30/5/2026).
Polemik Material Tanah Galian Perlu Dilihat Secara Objektif
Atim juga menanggapi polemik terkait pemanfaatan material tanah hasil galian proyek yang belakangan menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Menurutnya, masyarakat perlu memahami terlebih dahulu karakteristik dan kegunaan material tersebut sebelum menarik kesimpulan.
“Kita harus mengetahui dulu jenis dan kegunaannya. Jangan langsung berasumsi bahwa tanah itu dijual begitu saja. Yang perlu dipahami, material hasil galian tersebut berserakan dan harus ada tempat untuk menampung atau membuangnya agar tidak mengganggu pekerjaan proyek,” katanya.
Ia menjelaskan, material tanah yang menumpuk di lokasi pekerjaan berpotensi menghambat proses pelebaran jalan. Oleh karena itu, apabila ada masyarakat yang membutuhkan material tersebut untuk kepentingan tertentu, pemanfaatannya dapat menjadi solusi yang saling menguntungkan selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku.
Pengangkutan Material Membutuhkan Biaya Operasional
Terkait informasi yang mengaitkan anggota organisasinya dengan aktivitas pemanfaatan atau pengangkutan material tanah, Atim menegaskan bahwa persoalan tersebut harus dilihat berdasarkan peran dan kondisi di lapangan, bukan dikaitkan secara langsung dengan organisasi.
“Kalau terkait anggota kami yang disebut-sebut terlibat, harus dilihat dulu dalam konteks apa. Jangan langsung mengaitkan dengan organisasi. Faktanya, mereka juga pekerja dan masyarakat yang mencari nafkah. Mereka berada di lapangan, melihat material tanah yang berserakan, dan berupaya membantu agar pekerjaan proyek tidak terganggu,” jelasnya.
Menurut Atim, proses pengangkutan material membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit, mulai dari armada hingga bahan bakar minyak. Karena itu, apabila terdapat biaya pengganti yang bersifat wajar untuk menutupi kebutuhan operasional, hal tersebut perlu dipandang secara proporsional.
“Armada pengangkut tentu membutuhkan solar dan biaya operasional lainnya. Daripada material itu tidak terpakai, lebih baik dimanfaatkan oleh warga yang membutuhkan. Yang penting jangan sampai mematok harga yang besar atau memberatkan masyarakat,” ujarnya.
Upah Kerja Dinilai Masih Wajar
Atim menilai, apabila pihak yang membantu proses pengangkutan material memperoleh keuntungan yang relatif kecil sebagai upah kerja, hal tersebut masih dalam batas kewajaran.
“Kalau misalnya mendapatkan bersih sekitar Rp100 ribu, itu masih wajar karena merupakan upah kerja. Mereka juga bekerja dan mengeluarkan tenaga untuk membantu proses pengangkutan material tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat yang memanfaatkan tanah hasil galian secara tidak langsung turut membantu kelancaran proyek. Pasalnya, material yang terus menumpuk di area pekerjaan dapat menghambat progres pelebaran jalan apabila tidak segera dipindahkan.
“Ketika material menumpuk, pekerjaan bisa terganggu. Pertanyaannya, material yang tidak terpakai ini akan dibuang ke mana? Kalau ada masyarakat yang membutuhkan dan bisa memanfaatkannya, tentu itu membantu proses pekerjaan agar tetap berjalan lancar,” tuturnya.
Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas Proyek
Di akhir keterangannya, Atim mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi yang kondusif selama proyek berlangsung. Ia menegaskan bahwa proyek pelebaran Jalan Provinsi Jangga–Cikamurang merupakan proyek pemerintah yang manfaatnya akan dirasakan secara luas oleh masyarakat.
“Mari kita bersama-sama menciptakan kondusivitas. Ini proyek negara, sehingga siapa saja berhak melihat, membantu, dan mengawasi demi kelancaran pelaksanaannya. Dengan dukungan semua pihak, proyek ini diharapkan dapat selesai tepat waktu dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indramayu,” pungkasnya.
Reporter: Nono
Editor: Redaksi












