LOMBOK TIMUR-NTB || ONTV.CO.ID – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Dapur MBG Esa Jero Gunung, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur, NTB, menjadi sorotan publik setelah sejumlah relawan mengeluhkan sikap tiga SPPI (KSPPG, Ahli Gizi, dan Accounting) yang diduga sering menggunakan bahasa kasar, berlagak layaknya atasan, serta menimbulkan ketidaknyamanan dalam bekerja.
Seorang relawan yang enggan disebutkan namanya menuturkan bahwa ketiga SPPI tersebut kerap membuat suasana dapur tidak kondusif.
“Kami merasa tidak nyaman bekerja. Mereka sering berucap kasar dan berperilaku seolah bos. Kami berharap agar ketiganya segera dimutasi, bahkan bila perlu diberhentikan karena tidak layak menjadi pelayan pemerintah,” ujarnya.
Suara Publik dan Tuntutan Etika
Publik menilai bahwa seorang abdi BGN (SPPI) seharusnya bekerja dengan sikap ramah, tutur kata sopan, serta menjunjung tinggi nilai budaya, tata krama, dan kearifan lokal. Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dianggap sebagai bentuk ketidaksesuaian terhadap standar pelayanan publik.
Masyarakat juga menyampaikan bahwa petugas yang ditempatkan di dapur pelayanan gizi sebaiknya berasal dari warga lokal yang memahami etika dan adat setempat. Terdapat desakan agar Kepala BGN segera mengambil tindakan tegas, baik dengan memutasi maupun memberhentikan ketiga SPPI tersebut, demi menjaga kenyamanan dan keharmonisan kerja relawan.
Aturan dan Harapan Pelayanan Publik
Dalam aturan pelayanan publik, setiap petugas wajib menjunjung tinggi prinsip ramah, sopan, dan menghargai sesama. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai pelayanan gizi yang menekankan keharmonisan kerja tim. Ketidaknyamanan yang dirasakan relawan dianggap sebagai pelanggaran terhadap standar etika kerja yang berlaku.
Keberadaan SPPI yang tidak mampu menjaga sikap dinilai dapat merusak citra pelayanan pemerintah. Publik berharap BGN segera bertindak demi menjaga kualitas dan integritas pelayanan gizi di masyarakat.
(Den)












