LOMBOK TIMUR-NTB || ONTV.CO.ID — Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 yang telah lama dinanti masyarakat Lombok Timur akhirnya mulai beroperasi. Proses belajar mengajar sudah dimulai meski proyek renovasi fasilitas sekolah masih berlangsung. Namun, pembukaan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Jumat (15/8/2025) menuai kritik dari warga sekitar karena dinilai tidak maksimal dan kurang persiapan.
Guru Aktif Mengajar, Tapi Formasi Belum Lengkap
Dari total 17 guru yang direncanakan, baru 14 orang yang aktif mengajar. Dua guru asal Pulau Jawa—guru Seni Budaya dan Ekonomi—telah mengundurkan diri, sementara posisi guru Antropologi belum terisi. Kondisi ini memengaruhi kelancaran proses pembelajaran di awal tahun ajaran.
Minim Komunikasi dengan Warga Sekitar
Kepala Sekolah SRMA 38, Muh Apandi, yang berasal dari Kopang, dinilai belum membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar, khususnya warga Desa Sakra dan Desa Suangi Timur yang berada di lingkar sekolah. Sejumlah warga menilai manajemen SRMA terlalu tertutup dan kurang transparan dalam menyampaikan informasi publik, termasuk dalam hal pemberdayaan masyarakat lokal.
Pembukaan MPLS Dinilai Kurang Siap
Acara pembukaan MPLS yang dihadiri oleh sejumlah pejabat Pemprov NTB dan Kabupaten Lombok Timur berlangsung tanpa persiapan matang. Panggung acara tidak memiliki atap, sistem pengeras suara tidak memadai, dan suasana kegiatan terkesan dadakan. Meskipun Ketua PKK NTB yang juga Ibu Gubernur sempat hadir, kehadirannya hanya berlangsung singkat.
Warga sekitar menyayangkan bahwa sekolah dengan fasilitas mewah dan bangunan megah layaknya hotel tidak mampu menyelenggarakan kegiatan pembukaan secara maksimal. Hal ini menimbulkan kesan bahwa keberadaan SRMA tidak dianggap penting oleh pihak penyelenggara.
125 Siswa Aktif, Manajemen Konsumsi Belum Jelas
Sebanyak 125 siswa dari berbagai kecamatan se-Lombok Timur telah mulai aktif mengikuti kegiatan belajar. Namun, belum ada kejelasan mengenai pengelolaan konsumsi harian siswa—siapa yang bertanggung jawab, dari mana makanan diantar, dan bagaimana sistem distribusinya. Warga menduga manajemen SRMA masih menutup diri terhadap partisipasi masyarakat sekitar.
(den)












