SOLO || ONTV.CO.ID — Di balik prestasi akademik yang membanggakan, kisah pilu menyelimuti dunia pendidikan. Devita Sari Anugraeni (22), mahasiswi Program D4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, ditemukan meninggal dunia setelah melompat dari Jembatan Jurug, Selasa (1/7/2025).
Devita bukan sembarang mahasiswa. Ia baru saja menyelesaikan skripsinya dengan IPK 3,8, menjadi salah satu lulusan terbaik di jurusannya. Namun sayangnya, pencapaian itu tidak mampu meredam pergulatan batin yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Di tepi jembatan, Devita meninggalkan sepeda motor dan sebuah tas yang berisi surat tulisan tangan. Dalam surat itu, ia menyampaikan permintaan maaf kepada orang tuanya, teman-temannya, hingga pihak kampus. Ia menulis bahwa dirinya telah lama merasa lelah, dan memilih mengakhiri perjalanan hidup tanpa menyalahkan siapa pun. “Saya capek melawan diri saya sendiri,” tulisnya. Kata “bipolar” pun muncul di antara baris-baris pengakuan sunyinya.
Tim SAR menemukan tubuh Devita sejauh 3,3 kilometer dari lokasi ia melompat. Isak tangis menyelimuti proses evakuasi—terutama saat salah satu dosennya datang membawa jubah toga yang semestinya ia kenakan dalam wisuda mendatang.
Sekretaris UNS, Agus Riwanto, menyampaikan duka mendalam. Ia menegaskan bahwa Devita bukan hanya cemerlang secara akademis, tetapi juga pernah menerima beasiswa KIP-K. Kampus berencana tetap memasukkan nama Devita dalam daftar wisudawan, sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya.
“Kami tahu bahwa almarhumah adalah klien layanan konseling kampus sejak awal 2025 dan memang sedang menjalani penanganan intensif. Ini bukan soal nilai atau skripsi. Ini tentang luka yang tak terlihat,” ujar Agus.
Kisah Devita menjadi pengingat keras bahwa kesehatan mental adalah persoalan nyata—dan tak mengenal IPK, status sosial, atau pencapaian lahiriah. Kita bisa terlihat baik-baik saja, namun berjuang sendirian di dalam gelap.
Kini, tidak ada lagi sidang skripsi. Tidak ada toga. Hanya keheningan sungai yang menjadi saksi akhir perjuangan seorang mahasiswi yang terlalu lama merasa sendiri.***












