Bisnis & EkonomiInspiratifWirausaha

Meski Pernah Gagal Usaha Kini Dewi Harlas Sukses Ekspor Daun Pisang Ke 16 Negara

×

Meski Pernah Gagal Usaha Kini Dewi Harlas Sukses Ekspor Daun Pisang Ke 16 Negara

Sebarkan artikel ini

Awal Ide Ketika Melihat Banyak Daun Pisang di Belakang Rumah!

INSPIRASI || ONTV.CO.ID – Dewi Harlas adalah salah satu contoh orang yang berhasil mengekspor daun pisang ke luar negeri. Ia berhasil mengekspor daun pisang ke Australia setelah melihat banyak pohon pisang di belakang rumahnya. Dewi kemudian mencari informasi melalui internet dan menemukan bahwa permintaan daun pisang di luar negeri cukup tinggi.

Untuk mengekspor daun pisang, Dewi membuat profil usaha dan mengunggah foto-foto daun pisang di media sosial. Dari sejumlah buyer yang menerima email penawaran, calon buyer asal Australia tertarik mengorder. Orderan pertama Dewi mencapai 250 kg.

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Daun pisang memiliki potensi menjadi komoditas ekspor yang bernilai ekonomis tinggi. Di Jepang, harga selembar daun pisang bisa mencapai 1.980–2.280 Yen atau setara dengan Rp278 ribu–Rp321 ribu. Sementara di Amerika Serikat seharga US$ 13–US$ 18 atau setara dengan Rp195 ribu–Rp270 ribu.

Di luar negeri, daun pisang digunakan untuk bungkus makanan dan juga bahan baku makanan serta kosmetik.

Awal Perjalan Ekspor Daun Pisang

Dewi Harlas yang memiliki nama lengkap Dewi Ekha Harlasyanti (52) tinggal di desa tepatnya tinggal di sebuah desa di Purworejo, Purbalingga, Jawa Tengah. namun bisa punya bisnis sampe tembus pasar luar negeri, memang bisa? Inilah salah satu kisah yang dibagikan pemilik akun @ukm_eksporter_indonesia dan akun TikTok pribadinya wreda21, ia merupakan seorang single parent yang berhasil memiliki bisnis berskala internasional, yaitu bisnis barang-barang ekspor, seperti bulu mata, daun pisang, hingga serabut kelapa dan berhasil mendapatkan puluhan dolar.

Dewi Harlas merupakan mantan pegawai korporat yang memutuskan resign karena  dan kembali ke desa setelah belasan tahun bekerja di kota. Demi menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil pada saat itu, ia pernah berjualan gorengan.

Ia menceritakan bahwa dirinya sempat berbisnis, namun bisnisnya tidak berkembang. Lalu, ia memutar otak untuk mengembangkan bisnis tersebut ke luar negeri.

Dewi melihat potensi bisnis para pengrajin bulu mata di sekitar rumahnya, kemudian bermodalkan media sosial dan company profile ia mendapatkan buyer pertamanya di luar negeri. Namun, tahun 2015 pada saat awal merintis, ia harus bangkrut karena dikhianati oleh timnya sendiri dan harus jatuh bangun membangun bisnisnya kembali.

Melalui akun media sosial tersebut, wanita berambut hitam panjang terurai dalam video terlihat menjelaskan detail awal mula menekuni penjualan daun pisang ke luar negeri setelah sebelumnya mengalami pengalaman pahit ditinggalkan sosok suami yang lebih memilih bersama perempuan yang lebih berada.

“Lika-liku emak dasteran tinggal di desa, ekspor daun pisang ke Australia modal kuota internet,” tulis wanita tersebut sembari menyertakan foto dirinya yang dilengkapi dengan narasi.

“Punya banyak daun pisang di belakang rumah, bingung mau diapain. Searching di internet permintaan daun pisang cukup tinggi,” lanjutnya bercerita.

“Gas bikin dulu company profile buat ngeyakinin calon buyer. Email sana-sini DM sana-sini ditemenin si kucing,” langkah awal yang dia lakukan hingga akhirnya mendapatkan satu pembeli yang mengetahui dari facebook kemudian lanjut chatting lewat whatsapp. Setelah itu mereka melakukan pertemuan secara online melalui zoom meeting.

“Zoom meeting dulu sama buyer, presentasi si daun pisang, bahas spec, quantity order, packing dan terutama harga. Walaupun cuma dasteran tetep bisa cari dolar dari rumah. Ini meeting cuma dilihatin kepalanya doang, biar dasternya ngak kelihatan karena lagi malas ganti baju. Alhamdulillah deal 250 kg. Minta buyer bayar lunas dimuka, ambil dulu dolarnya dari bank,” katanya lewat video tersebut.

Tahap selanjutnya adalah menyiapkan orderan agar siap dikirim. Wanita itu pun bergerak hunting daun pisang di belakang rumah dan sekitarnya untuk mengumpulkan jumlah sesuai yang dipesan konsumen.

Sesudah terkumpul daun pisang dicuci bersih siap packing seperti yang diinginkan buyer atau pembeli. Karena perjalanan jauh, demi menjaga supaya daun pisang tidak robek dan harus kuat maka mengambil solusi dengan cara di vakum sealer sebelum dikemas dalam karton box.

Dia pun mengusahakan packing serapi mungkin agar pembeli merasa puas dengan harapan melakukan repeat order kembali. Sedikit tambahan bahwa pengiriman menggunakan kontainer reefer.

Diakhir video ibu itu menyemangati kaum perempuan lain dengan kalimat semangat yuk emak-emak tinggal di desa, rezeki kota, bisnis mendunia.

Unggahan tersebut menuai beragam komentar warganet. Ada yang merasa kagum dan penasaran bagaimana ibu itu melalukannya hingga bertanya banyak hal. Sampai ada juga yang berpendapat bahwa ekspor seperti yang wanita tersebut lakukan tidak semudah yang dikisahkan.


Dewi Harlas telah sukses menjadi seorang eksportir ke 16 negara. Ia banyak mengekspor bulu mata, serbuk kelapa hingga daun pisang. Ia juga aktif sebagai pembicara webinar mengenai UMKM dan Ekspor.

Kini, ia sudah memiliki perusahaan dari desa dan sukses di internasional, mengembangkan potensi dari para ibu rumah tangga di desanya. Konten-kontennya di Tiktok dan Instagram telah banyak menginspirasi banyak orang.

Kesuksesan Dewi Harlas kini adalah buah dari kerja keras dan jatuh bangun membangun bisnisnya. Mengenal potensi sekitar hingga akhirnya bisa menghasilkan banyak cuan. Kisah hidup dan perjalanan bisnisnya sangat memberi inspirasi kalau kita bisa menggapai mimpi di usia berapapun itu, setiap keinginan pasti ada jalan.***

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Tinggalkan Balasan