MATARAM-NTB || ONTV.CO.ID – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyoroti pertumbuhan ekonomi negatif di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mengalami kontraksi -1,47%, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2025, Senin (26/5/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Tito memberikan teguran langsung kepada Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, atas minusnya pertumbuhan ekonomi di wilayahnya.
“Kenapa pertumbuhan ekonomi NTB bisa minus 1,47%? Padahal hanya terdiri dari dua pulau utama. Pak Gubernur orang pintar, mantan Duta Besar RI di Turki, kok bisa begini? Saya minta Pak Lalu M. Iqbal berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) NTB terkait ini. Ini jadi PR buat Pak Gub,” tegas Tito dalam rapat tersebut.
NTB Berada di Urutan Paling Bawah dalam Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan data BPS NTB, pertumbuhan ekonomi provinsi ini berada di posisi terbawah, hanya sedikit lebih baik dari Provinsi Papua Tengah, yang mengalami kontraksi hingga -25,53% (year-on-year).
Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi di sektor pertambangan dan penggalian, yang menyusut 30,14%. Sedangkan dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mengalami kontraksi terbesar, mencapai 41,05%.
Menanggapi hal ini, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menyatakan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di NTB, tetapi juga di berbagai daerah lain akibat situasi ekonomi global yang sedang mengalami perlambatan.
Namun, Mendagri mengingatkan bahwa jika dalam kuartal berikutnya angka pertumbuhan ekonomi tetap negatif, maka NTB secara teknikal masuk dalam jurang resesi. Ia pun meminta pemerintah daerah untuk segera membenahi kondisi ekonomi agar di triwulan berikutnya bisa kembali positif?
Saat dikonfirmasi melalui telepon, Kepala BPS NTB Wahyuddin menyebutkan bahwa kontraksi ekonomi di NTB disebabkan oleh terhentinya ekspor tambang.
“Ekspor tambang terakhir terjadi pada November lalu, dan sejak itu berhenti total,” ujar Wahyuddin.
Namun, ia menegaskan bahwa tanpa sektor tambang, NTB seharusnya bisa tumbuh sebesar 5,57% secara tahunan, jika ditopang oleh sektor pertanian dan perdagangan.
“Tambang bukan satu-satunya alasan NTB mengalami kontraksi ekonomi,” tegas Wahyuddin.
Hingga berita ini diterbitkan, pemerintah NTB terus berupaya mencari solusi agar pertumbuhan ekonomi provinsi kembali pulih dan tidak memasuki fase resesi pada kuartal berikutnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pemerintah NTB terus berupaya mencari solusi agar pertumbuhan ekonomi provinsi kembali pulih dan tidak memasuki fase resesi pada kuartal berikutnya.(*/Biro-KSB)












