LOMBOK UTARA-NTB || ONTV.CO.ID – Maulid Adat Bayan bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan manifestasi keteraturan sosial dan budaya masyarakat Sasak yang berlangsung khidmat selama tiga hari penuh. Ribuan warga adat dari berbagai kepembekelan datang beriringan, mengenakan busana khas Bayan, membawa natura hasil bumi dan ternak sebagai bentuk syukur dan penghormatan.
RIT: Filosofi Keteraturan dalam Tradisi Sasak
Dalam masyarakat Sasak, istilah “RIT” menggambarkan keteraturan yang presisi, ajeg, dan penuh khidmat. Diksi ini sangat tepat untuk menggambarkan pelaksanaan Maulid Adat Bayan. Setiap individu tahu peran dan tugasnya, dari persiapan alat ritual seperti Rantok dan Alu, hingga prosesi Sembeq oleh Inan Meniq di Kampu Karang Bajo.
“RIT bukan sekadar tradisi, tapi sistem manajemen sosial yang berjalan tanpa komando formal,” ujar Satria Wangsa, pengamat budaya lokal.
Prosesi Hari Kedua: Merembun dan Menutu
Pada hari kedua (7 September), ribuan warga adat mengalir ke Kampu Karang Bajo. Mereka membawa hasil bumi dan ternak, disambut Gong Gerantung yang berbunyi sepanjang hari. Prosesi Merembun dan Menutu menjadi sorotan utama, di mana warga menumbuk padi secara serempak sebagai simbol ketekunan dan kebersamaan.
Potensi Wisata Budaya yang Belum Maksimal Digarap
Meski memiliki nilai budaya tinggi dan prosesi yang spektakuler, Maulid Adat Bayan belum menjadi magnet wisata nasional. Padahal, momen-momen seperti Temetian (Peresean), Bisok Menik (mencuci beras), dan Praja Mulud sangat layak disaksikan oleh wisatawan.
Kenapa Maulid Adat Bayan Layak Jadi Event Nasional?
- Kepastian Jadwal: Berbeda dengan Bau Nyale, Maulid Adat Bayan memiliki jadwal tetap setiap tahun, memudahkan perencanaan wisata.
- Aksesibilitas Tinggi: Prosesi dapat disaksikan langsung oleh publik, kecuali ritual inti di dalam Kampu dan Masjid Kuno.
- Infrastruktur Mendukung: Dekat dengan desa wisata Senaru, Sembalun, dan Pemenang yang memiliki akomodasi lengkap dari kelas ekonomi hingga premium.
- Destinasi Pendukung: Air terjun, kampung adat, dan kuliner khas seperti Sate Ikan Tanjung memperkaya pengalaman wisata.
Seruan untuk Stakeholder Pariwisata
Dengan ekosistem budaya dan infrastruktur yang sudah tersedia, tidak ada alasan bagi Maulid Adat Bayan untuk tidak diangkat sebagai event budaya nasional. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku pariwisata, dan komunitas adat untuk menjadikan Maulid Adat Bayan sebagai ikon wisata budaya Lombok Utara.
(den)












