InternasionalMusikNews

Nada Perlawanan: Gelombang Dukungan dan Solidaritas Kemanusiaan Musisi Dunia untuk Palestina

×

Nada Perlawanan: Gelombang Dukungan dan Solidaritas Kemanusiaan Musisi Dunia untuk Palestina

Sebarkan artikel ini

MUSIK || ONTV.CO.ID – Di tengah sorotan panggung dunia, suara perlawanan terhadap ketidakadilan terus menggema. Bukan dari ruang diplomasi, melainkan dari senar gitar dan mikrofon: dukungan terhadap Palestina kini menjadi salah satu isu utama yang digaungkan para musisi dunia—dari panggung underground hingga festival internasional.

Green Day & Solidaritas di Coachella

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Band punk asal California, Green Day, menyuarakan dukungan mereka saat tampil di Coachella 2025. Billie Joe Armstrong mengganti lirik lagu Jesus of Suburbia menjadi:

“Runnin’ away from pain like the kids from Palestine
Tales from another broken home.”

Aksi ini disambut sorakan penonton dan viral di media sosial, menjadi simbol bahwa punk belum kehilangan taringnya.

Panggung Musik yang Membara

Festival musik Glastonbury disorot karena diisi oleh para musisi pendukung Palestina yang tak gentar bersuara:

  • Bob Vylan (UK): Di Glastonbury 2025, mereka menyerukan:
    “Kami menjadi target. Kami bukan yang pertama. Kami tidak akan menjadi yang terakhir, dan jika kalian peduli pada kesucian hidup manusia dan kebebasan berbicara, kami mendesak Anda untuk berbicara juga.”
  • Nilufer Yanya (UK): Membentangkan spanduk bertuliskan: “Lebih banyak tindakan, lebih banyak suara, lebih sedikit ketakutan, bebaskan Palestina.”
  • Amy Taylor (Amyl and the Sniffers, Australia): “Saya menyesal tidak teredukasi tentang Palestina saat tumbuh besar di Australia.”
  • Jade Thirlwall (UK): “Pemerintah Inggris membenarkan genosida di Gaza.”
  • Elijah Hewson (Inhaler, Irlandia): “Saya ingin mendedikasikan lagu ini untuk rakyat Palestina. Untuk setiap orang tak bersalah yang kelaparan atau dibom atau digenosida demi kepentingan beberapa orang gila.”

Rage Against the Machine: Dari Lirik ke Aksi Jalanan

Band legendaris Rage Against the Machine (RATM) tak hanya menyuarakan perlawanan lewat lagu seperti Killing in the Name, tapi juga lewat aksi nyata:

  • Zack de la Rocha, vokalis RATM, memilih ikut aksi bela Palestina di Washington DC pada 4 November 2023 ketimbang menghadiri seremoni Rock and Roll Hall of Fame.
  • Dalam pernyataan resmi, RATM menyatakan:
    “Kekerasan dan kekejaman yang kami saksikan di Sheikh Jarrah, kompleks Al Aqsa dan Gaza adalah kelanjutan dari puluhan tahun apartheid brutal Israel dan pendudukan kekerasan di Palestina. Kami berdiri bersama rakyat Palestina saat mereka melawan teror kolonial dalam segala bentuknya.”

Roger Waters: Konsistensi Tanpa Kompromi

Pendiri Pink Floyd, Roger Waters, telah lama menjadi suara lantang untuk Palestina:

  • Ia menolak tampil di Israel sejak 2011 dan aktif dalam gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS).
  • Dalam wawancara dengan TRT World, ia menyatakan:
    “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup di Gaza, dibombardir F-16 siang dan malam. Itu menjijikkan.”
  • Waters juga menyebut bahwa kritik terhadap Israel bukanlah anti-Semitisme:
    “Mereka menyalahgunakan istilah anti-Semit untuk membungkam orang-orang seperti saya.”

Massive Attack: Visual, Musik, dan Aksi Nyata

Grup trip-hop asal Bristol, Massive Attack, telah menolak tampil di Israel sejak 1999 dan terus menyuarakan solidaritas:

  • Di Open’er Festival 2025, mereka menampilkan visual kehancuran Gaza dan menyatakan:
    “Lagu ini kami dedikasikan untuk rakyat Palestina. Never again harus berlaku untuk semua orang.”
  • Mereka juga mengundang jurnalis foto Palestina Motaz Azaiza ke atas panggung di Bristol, yang berkata:
    “Saya di sini untuk berbagi kisah rakyat saya yang hanya ingin hidup damai, tapi Israel tidak mengizinkan itu.”
  • Massive Attack juga merilis lagu Ceasefire bersama Fontaines D.C. dan Young Fathers, dengan seluruh hasil disumbangkan ke Doctors Without Borders untuk Gaza.

Musik Sebagai Medium Perlawanan

Dari Glastonbury hingga Coachella, dari panggung kecil hingga konser megabintang, musik menjadi bahasa universal solidaritas. Para musisi ini menghadapi sensor, pembatalan kontrak, hingga larangan masuk negara—namun tetap bersuara.

Solidaritas mereka bukan sekadar politik, tapi tentang nilai: kebebasan, keadilan, dan keberanian untuk bersuara. Di tengah dunia yang sering dibungkam oleh kekuatan ekonomi dan militer, suara musisi menjadi bukti bahwa nurani tak bisa diredam.(red)

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Tinggalkan Balasan