DaerahHukum & Kriminal

Diduga Tawuran Pelajar di Desa Jangga, Bocah 10 Tahun Alami Trauma

×

Diduga Tawuran Pelajar di Desa Jangga, Bocah 10 Tahun Alami Trauma

Sebarkan artikel ini

INDRAMAYU II ONTV.CO.ID – Warga Desa Jangga, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, digemparkan oleh aksi yang diduga tawuran antar pelajar di Blok Peminggir pada Rabu (3/6/2026). Insiden tersebut tidak hanya menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat, tetapi juga menyebabkan trauma pada seorang bocah perempuan berusia 10 tahun yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, tawuran diduga melibatkan sejumlah pelajar dari SMAN 1 Losarang dan SMK Muhammadiyah Kandanghaur. Bentrokan terjadi di jalan desa yang saat itu masih ramai dilalui warga sehingga memicu kepanikan masyarakat sekitar.

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Warga mengaku khawatir karena sejumlah pelajar disebut membawa senjata tajam jenis celurit berukuran panjang. Kehadiran senjata tersebut membuat warga yang berada di sekitar lokasi berupaya menyelamatkan diri dan mencari tempat aman guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di tengah situasi mencekam itu, dua anak perempuan yang baru pulang dari kegiatan madrasah turut merasakan dampaknya. Salah satunya adalah Nara (10), siswi sekolah dasar yang saat itu berjalan pulang bersama temannya, Amel.

Menurut keterangan warga, kedua anak tersebut tampak ketakutan ketika melihat kerumunan pelajar berlarian sambil membawa benda yang diduga senjata tajam. Beruntung, warga yang berada di sekitar lokasi segera membawa keduanya ke dalam rumah untuk menghindari bahaya.

Tutina, warga Blok Peminggir yang juga masih memiliki hubungan keluarga dengan Nara, mengaku terkejut dengan kejadian tersebut. Menurutnya, tawuran kali ini sangat mengkhawatirkan karena melibatkan pelajar yang membawa senjata tajam berukuran besar.

> “Saya kaget sekali melihat kejadian itu. Apalagi ada yang membawa celurit panjang. Ponakan saya, Nara, bersama temannya Amel sedang pulang dari madrasah saat kejadian. Untung ada warga yang langsung membawa mereka masuk ke dalam rumah supaya aman,” ujar Tutina.

Ia menambahkan, pascakejadian Nara masih mengalami ketakutan dan syok. Bocah tersebut terus membicarakan peristiwa yang disaksikannya dan mengaku takut saat mengingat para pelajar yang berlarian sambil membawa senjata tajam.

Peristiwa ini kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap maraknya aksi tawuran pelajar di sejumlah wilayah Kabupaten Indramayu. Warga menilai aksi kekerasan tersebut tidak hanya mengancam keselamatan para pelaku, tetapi juga membahayakan masyarakat umum yang tidak memiliki kaitan dengan konflik tersebut.

> “Yang kami takutkan bukan hanya pelajarnya yang terluka, tetapi warga yang kebetulan melintas juga bisa menjadi korban. Anak-anak yang pulang sekolah atau madrasah tentu sangat rentan jika kejadian seperti ini terus berulang,” ujar seorang warga.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi terkait jumlah pelajar yang terlibat maupun adanya korban luka dalam insiden tersebut. Namun, warga berharap aparat kepolisian dan pihak sekolah segera mengambil langkah tegas untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Masyarakat juga meminta agar pengawasan terhadap aktivitas pelajar di luar jam sekolah diperketat. Selain itu, diperlukan pembinaan yang lebih intensif mengenai bahaya kekerasan serta konsekuensi hukum dari keterlibatan dalam aksi tawuran, terlebih jika membawa senjata tajam.

Peristiwa yang terjadi di Blok Peminggir, Desa Jangga, menjadi pengingat bahwa dampak tawuran tidak hanya dirasakan oleh para pelajar yang terlibat, tetapi juga masyarakat sekitar yang berpotensi menjadi korban secara langsung maupun tidak langsung. Trauma yang dialami seorang bocah sekolah dasar akibat menyaksikan aksi kekerasan tersebut menjadi bukti nyata bahwa persoalan tawuran pelajar memerlukan perhatian serius dari semua pihak.

Warga berharap aparat penegak hukum, pihak sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat dapat bersinergi untuk menghentikan budaya kekerasan di kalangan pelajar. Sebab, ruang publik seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk belajar, beraktivitas, dan tumbuh tanpa rasa takut.

(Nono)

 

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Tinggalkan Balasan