AGAM-SUMBAR || ONTV.CO.ID — Sumatera Barat dilanda kemarau panjang yang kian mengancam masa depan pertanian lokal. Ribuan hektare sawah mulai mengering, dan petani kini dibayangi ancaman gagal panen massal—sebuah krisis yang bukan hanya memukul produksi pangan, tetapi juga mengguncang ekonomi pedesaan.
Sejumlah daerah sentra produksi, seperti Kabupaten Limapuluh Kota, Padang, Pariaman, dan Pesisir Selatan, mencatatkan penurunan drastis pasokan air. Tanaman padi mulai menguning sebelum waktunya, dan lahan pertanian retak-retak karena minimnya kelembaban tanah.
Di Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, para petani terpaksa memberlakukan sistem giliran pengairan akibat irigasi yang mengering.
“Kami harus bergantian mengaliri sawah, bahkan sampai malam hari pun warga masih antre. Butuh waktu berjam-jam agar air cukup mengaliri lahan kami,” ujar sejumlah petani saat ditemui Selasa (1/7/2025).
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar. Jika tidak segera ditangani, gagal panen dapat menurunkan ketahanan pangan regional serta memperburuk kondisi ekonomi keluarga petani yang sangat bergantung pada hasil panen.
Desakan kepada pemerintah daerah pun mencuat. Petani berharap adanya langkah konkret seperti penyediaan pompa air, pembangunan sumur bor, hingga distribusi air bersih untuk menyelamatkan lahan yang tersisa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya, memperkuat potensi ancaman kekeringan berkepanjangan.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan. Jangan sampai kami benar-benar tak bisa panen tahun ini,” kata Rindang, petani di Nagari Balai Gurah.
Situasi ini menjadi pengingat tegas bahwa perubahan iklim berdampak nyata terhadap sektor pertanian. Tindakan cepat dan dukungan nyata dari pemerintah sangat dibutuhkan agar harapan petani tidak menguap bersama surutnya air di lahan mereka.
(Citra Yofvie Ardina)












