LOMBOK TIMUR-NTB || ONTV.CO.ID – Aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Lombok Timur pada Selasa, 28 April 2026, meninggalkan kekecewaan mendalam. Hingga aksi berakhir, Bupati Lombok Timur tidak kunjung menemui massa aksi yang telah menyampaikan tuntutan secara damai di depan kantor bupati.
Massa aksi yang berasal dari berbagai kampus di Lombok Timur membawa sejumlah tuntutan penting, di antaranya:
- Penyebab kelangkaan LPG 3 kg
- Kebijakan pendidikan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat
- Isu lingkungan yang tak kunjung ditangani secara serius
Aksi ini disebut sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat Lombok Timur yang semakin memprihatinkan.
Kritik Pedas dari Mahasiswa
Ajem, salah satu orator aksi, menilai ketidakhadiran bupati sebagai bentuk ketidakberanian moral dan minimnya tanggung jawab dalam menghadapi kritik rakyat.
“Kami datang dengan itikad baik, membawa suara rakyat. Namun, Bupati Lombok Timur justru abai dan memilih bersembunyi di balik birokrasi tanpa memberikan penjelasan langsung kepada publik,” tegas Ajem.
Ia menambahkan, sikap tersebut mencerminkan rendahnya komitmen pemerintah daerah dalam membangun ruang dialog yang sehat dan demokratis.
Gelombang Aksi Akan Berlanjut
Diarti, koordinator umum Aliansi BEM se-Lombok Timur, menegaskan bahwa aksi ini bukan yang terakhir.
“Kami tidak akan berhenti sampai ada kejelasan sikap dan langkah konkret dari pemerintah daerah. Jika hari ini mereka menutup telinga, maka suara ini akan menggema lebih keras,” ujarnya dengan nada geram.
Catatan Serius bagi Pemerintah Daerah
Aksi demonstrasi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan berjalan relatif kondusif. Namun, kekecewaan mahasiswa menjadi catatan serius bagi pemerintah daerah untuk segera memperbaiki pola komunikasi, transparansi, dan keberpihakan terhadap rakyat.
(den)












