LOMBOK TIMUR-NTB || ONTV.CO.ID — Dalam rangka memperingati 80 tahun Indonesia merdeka, Eksekutif Kabupaten Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK LMND) Lombok Timur sukses menggelar Temu Kangen dan Dialog Publik bertema: “80 Tahun Indonesia Merdeka: Anak Muda dan Tantangan Menghadapi Krisis Biaya Hidup.”
Acara pada Selasa (26/8/2025) yang berlangsung penuh semangat ini menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti Ketua Umum Eksekutif Nasional LMND Muhammad Asrul, Kepala Kesbangpoldagri Lombok Timur H. Mustafa, Cipayung Plus Lombok Timur, Presiden Mahasiswa BEM se-Lombok Timur, serta para pemuda dan alumni LMND.
Sorotan Isu Strategis: Sambutan Muhammad Asrul
Dalam sambutannya, Muhammad Asrul menyoroti bahwa meski Indonesia telah merdeka selama delapan dekade, rakyat masih bergulat dengan persoalan mendasar seperti:
- Pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan yang belum merata
- Krisis air bersih dan kemiskinan ekstrem di NTB
- Bonus demografi yang menuntut pengembangan industri kreatif berbasis kearifan lokal
- Lemahnya kebijakan daerah yang memperburuk krisis biaya hidup
Ia juga menekankan pentingnya eksplorasi potensi panas bumi sebagai solusi ekonomi alternatif di NTB.
Kongres X LMND dan Penegasan Independensi
Ketua Eksekutif Wilayah LMND NTB, Arif Hariyadin, menyampaikan bahwa Kongres X LMND akan digelar pada 23–28 Oktober 2025, membahas isu-isu strategis seperti:
- Geopolitik global dan ekonomi nasional
- Perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap generasi muda
- Krisis biaya hidup dan ketimpangan sosial
Arif juga menolak klaim kongres LMND yang digelar di Mataram (28–31 Agustus 2025), menyebutnya sebagai agenda Partai Prima yang tidak terkait dengan LMND sebagai organisasi independen.
“LMND NTB tetap fokus mengawal isu pendidikan, tambang, dan krisis biaya hidup melalui dialog dan temu alumni di seluruh NTB,” tegasnya.
Deklarasi Politik Anak Muda: Kritik Tajam untuk DPRD
Acara ditutup dengan pembacaan Deklarasi Politik Anak Muda oleh Ketua EK LMND Lombok Timur, Muhammad Hamzani. Deklarasi tersebut menyoroti absennya DPRD Lombok Timur dalam forum publik dan menyampaikan:
- Keprihatinan atas minimnya partisipasi DPRD dalam isu krusial
- Kecaman terhadap abainya DPRD sebagai representasi rakyat
- Tuntutan agar DPRD menghadirkan kebijakan yang berpihak pada anak muda
- Komitmen pemuda untuk terus bergerak, berdiskusi, dan mengkritisi kebijakan
- Dorongan untuk menciptakan ruang kreatif, beasiswa, dan perlindungan sosial
“Politik bukan sekadar kursi dan jabatan, melainkan tanggung jawab moral untuk bersama rakyat menghadapi krisis,” tutup Hamzani.
Temu Kangen dan Dialog Publik EK LMND Lombok Timur bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi menjadi ruang strategis bagi anak muda untuk menyuarakan keresahan dan harapan. Di tengah krisis biaya hidup dan tantangan pembangunan daerah, generasi muda menunjukkan bahwa mereka bukan hanya objek kebijakan, melainkan subjek perubahan.
Dengan semangat kolektif, kritik konstruktif, dan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi, anak muda Lombok Timur menegaskan bahwa masa depan Indonesia harus dibangun bersama—dari akar rumput, oleh suara rakyat, dan untuk keadilan sosial.
(den)












