JAKARTA || ONTV.CO.ID — Kisah inspiratif Christopher Farrel Millenio Kusuma membuktikan bahwa penolakan bukan akhir dari segalanya. Remaja asal Yogyakarta ini sempat ditolak 11 kali dalam kompetisi karya ilmiah di Indonesia. Namun, justru penolakan itu menjadi titik balik yang membawanya ke panggung teknologi global.
Pada tahun 2017, Farrel diundang langsung oleh Google ke kantor pusat mereka di Mountain View, California, untuk mempresentasikan temuannya: algoritma kompresi data berbasis neural network yang ia kembangkan secara mandiri. Ia kemudian bergabung dalam proyek pengembangan algoritma kompresi untuk Google Photos, bekerja secara jarak jauh karena masih duduk di bangku SMA.
Dari Gamer ke Inovator
Farrel memulai perjalanannya sebagai gamer profesional. Ketertarikannya pada teknologi muncul saat ia kesulitan mengunduh game ber kuota terbatas. Dari situ, lahirlah ide untuk menciptakan algoritma kompresi data yang efisien.
Lahirnya Kecilin
Setelah bekerja di Google, Farrel mendirikan startup Kecilin, yang fokus pada teknologi kompresi data untuk menghemat kuota internet. Startup ini berkembang pesat dan bahkan berhasil mendigitalkan industri perbankan Indonesia melalui teknologi VSAT dan kompresi data ekstrem.
Menolak Stanford Demi Startup
Farrel bahkan mendapat Letter of Acceptance dari Stanford University, namun memilih fokus pada pengembangan bisnisnya.
“Bisnis itu momentum-based, dan saya tak ingin melewatkan momen ini,” ujarnya dalam wawancara.
Kini, Farrel dikenal sebagai CEO dan manajer startup AI yang sukses, membuktikan bahwa penolakan bukan hambatan, melainkan batu loncatan menuju pencapaian luar biasa.
Sumber kutipan:
- MASUK PTN – Penelitiannya Ditolak 11 Kali di Indonesia, Diundang Google
- Ayo Indonesia – Perjalanan Christopher Farrel Diterima Google
- Urbanasia – Farrel Diundang Google Setelah Ditolak di Indonesia
- RBG.id – Startup Kecilin dan Proyek Jarak Jauh Bersama Google












