Jakarta,ontv.co.id – “Saya memberikan susu kepada orang-orang yang membutuhkan susu, ” kata Ratih Widyasari, yang akrab dipanggil Embun. “Susu dengan segala produk dan rasa.”Pernyataan Embun, tentu saja, mengejutkan banyak orang. Apakah ada ‘sinterklas’ sebaik itu? Ternyata, “Kami menerima donasi susu melalui Yayasan ‘Saya Suka Susu’, lalu menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkannya.”
Artinya, tanpa ada yang berpartisipasi dan berkontribusi “menjembatani” dan meluangkan waktu mengelola dan menyalurkannya, tentu sulit mendistribusikan susu. Apalagi, tujuannya “Menyalurkan susu ke seluruh masyarakat secara gratis, khususnya usia balita yang diutamakan sebagai ‘bibit’ bangsa yang sedang memerlukan susu.”
Embun yakin cita-cita tersebut bisa terwujud karena, “Kembali ke para donatur, yang diharapkan mau berbagi susu.” Selain itu, “Kami juga merencanakan punya peternakan sapi perah, yang nantinya sebagian dari hasil usaha, akan didonasikan kepada yang membutuhkan susu.”
Motivasinya, Embun bercerita, “Ibu saya dulu sudah menjadi pekerja sosial membagi-bagikan susu setiap hari saat saya masih kecil.” Dan, sampai sekarang, “Berlanjut ke saya… agar semua orang bisa menikmati susu… yang otomatis akan menyehatkan.”
Bukan hanya sekedar niat dan tujuan baik serta rencana, melalui Yayasan Tanah Bernyanyi, Embun juga sudah berpengalaman mengelola kegiatan semacam itu. Tidak heran, Embun juga dikenal sebagai Ketua Komunitas Pohon Bogor; yang kepenguruaannya seluruh Indonesia.
Melalui Yayasan Tanah Bernyanyi, Embun dan para seniman anak buahnya juga pernah pentas di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki tahun 2012 (artikelnya sudah ditulis Radhar Panca Dahana di Harian Kompas). Waktu itu, hal unik yang ditampilkan ialah kreatif pembuatan alat musik dari tanah yang bisa mengeluarkan bunyi seperti instrumen musik lainnya.
Sama seperti pengelolaan ‘susu’, Embun mengistilahkan secara filosofis obyektif makhluk hidup yang ‘bersuara’ menyampaikan ‘frekuensi suara’ atau aspirasinya — yang tak bisa dilihat atau dipahami oleh setiap orang.
“Tanah itu simbol ‘bumi’, “ujar Embun. ” Dan, ‘bernyanyi’ itu visualisasi dari ‘suara-suara alam’ yang mempunyai frekuensi tertentu. “Aku memvisualisasikannya itu ke keramik… dari unsur tanah ke keramik, yang dari gesekan dan pukulan bisa menghasilkan getaran tertentu yang frekuensinya bisa diterima oleh tanaman, oleh binatang, yang dapat bergerak. “
Embun melanjutkan, “Kekuatan suara… bernyanyi hanya simbolik saja. Ada aspirasi makhluk-makhluk yang ada di bumi. Alam itu hidup, ciptaan Tuhan yang seharusnya terjaga. ” Karena itu, Embun menegaskan, “Bagaimana manusia bisa mengontrol di era modern supaya makhluk hidup yang ada, dan yang lebih dulu ada, bisa tetap terjaga.”
Karena alam ‘bernyanyi’ menyalurkan suara, kata Embun, “Kita harus bisa menumbuhkan rasa cinta pada tanaman. Kalau sudah cinta, berarti kita mulai memikirkan hidup yang lebih baik… lebih layak…. “
Journalist : Fathonie Abdullah












