OPINI || ONTV.CO.ID – Laut Mandalika tenang hari ini. Tapi di balik riaknya, gelombang kegelisahan terus berdebur di benak warga NTB yang menyaksikan satu demi satu ruang kepercayaan dan kebanggaan daerah ini diserobot secara sistemik.
Pengangkatan jajaran direksi Bank NTB Syariah yang hanya menyisakan satu kursi untuk putra daerah, sementara empat lainnya diisi oleh figur luar NTB, bukan sekadar keputusan teknokratis. Ini tamparan lembut yang diam-diam menggores harga diri kolektif kita—bahwa NTB seolah dianggap tak lagi melahirkan anak-anak bangsa yang mumpuni untuk duduk di palka utama kapal daerahnya sendiri.
Lebih getir lagi, pengkhianatan terhadap janji-janji suci para elite lokal. Mereka yang dulu berkampanye dengan ikrar “tak akan bagi-bagi jabatan pada orang dekat dan tim sukses”, kini tampak menelanjangi sumpah itu sendiri. Gaya kepemimpinan yang mencla-mencle, pagi tahu sore tempe, bukan hanya mencederai konsistensi, tapi juga membunuh kepercayaan publik secara perlahan namun pasti.
Tak berhenti di situ—nama NTB pun seperti hilang dari kursi komisaris ITDC. Satu dekade silam, ada komitmen tak tertulis untuk menyertakan putra daerah dalam struktur manajemen BUMN pariwisata tersebut. Kini, tradisi itu pupus, seolah-olah NTB tak lagi layak diperhitungkan. Di sini terlihat jelas betapa lemahnya posisi tawar pemimpin kita di hadapan pemerintah pusat. Kepercayaan yang tak dibangun, dihargai, dan diperjuangkan… cepat atau lambat akan dikubur.
Amaq Agul hanya bisa melempar jaring ke laut, berharap bukan sekadar ikan yang tersangkut, tapi barangkali juga secuil kepercayaan yang terdampar di dasar samudra.
