Karawang,ontv.co.id – Allohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil“
Ayah. Begitulah aku memanggilmu sejak saat itu hingga kini dan bahkan selamanya. Dirimu adalah lelaki pertama yang aku kenal begitu raga lemah ini tiba di dunia. Bersama ibu, kita sungguh menjalani kehidupan yang bahagia seperti kisah negeri dongeng.
Pelukan hangat guna menenangkan tangisku, kecup manja yang terkadang membuatku geli, hingga jemari kekarmu yang selalu ada untuk menggelitiki tubuh mungil bayimu ini tak pernah luput mengiringi setiap langkah awal kehidupanku. Ayah, aku yakin dirimu adalah satu-satunya lelaki yang takkan pernah membiarkanku terluka sedikitpun.
Seiring berjalannya waktu aku tumbuh semakin besar, dirimu semakin terpacu untuk mencari nafkah lebih gencar demi memenuhi segala kebutuhan serta keinginan malaikat kecilmu yang nakal ini.
Aku yakin semua yang engkau lakukan adalah yang terbaik untukku, meskipun telah banyak waktumu tersita untuk pekerjaan, berkelumit dengan sejumlah tekanan, hingga hari-hari penuh peluh yang kau lewati, namun tak pernah sekalipun engkau tampakkan dan keluhkan segala yang dirasa.
Kepulanganmu saat larut malam selalu kutunggu dan kunanti, kepulanganmu yang kadangkala disertai sebungkus makanan ringan atau mainan selalu mampu membuatku tersenyum. Namun ayah, sesungguhnya kepulanganmu dengan selamat disertai ukiran senyum bibirmu lah yang selalu aku nantikan setiap harinya.
Waktu kebersamaan ini terasa begitu singkat ayah. Rasanya baru kemarin raga ini terlelap dipangkuanmu. Namun kini ternyata tuhan ingin mengambilmu dari pelukku dan ibu lebih cepat. Aku sadar bahwa tuhan jauh lebih menyayangimu dariku maupun ibu, Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah untuk mu.
Ayah, selamat jalan, kami ikhlas melepasmu terbang menuju pangkuan sang khalik. Namun izinkan aku menangis sekejap untuk bisa mengenangmu dengan lebih tegar selamanya. Ayah, aku dan ibu akan selalu menyanyangimu.
Sepeninggalmu, aku berusaha untuk menjadi teman hidup terbaik bagi ibu. Aku dan ibu harus saling berpegangan dan berangkulan untuk meneruskan jalan kehidupan walau kini tanpamu.
Keadaan membuatku dan ibu terus belajar mengenai makna kehidupan serta mengambil hikmah dari setiap hal manis maupun hal pahit yang dialami. Kini kami sudah jauh lebih tenang.
Ayah, percayalah malaikat kecilmu dan kekasihmu kini telah tumbuh menjadi pribadi tangguh lebih dari yang kau bayangkan.
Ayah, walau ragamu tak lagi di sisi, walau kita tidak lagi berpijak pada bumi yang sama, dan walau kini kita telah berbeda dimensi, aku percaya di suatu tempat sana doa dan harapan tulus kami akan selalu sampai padamu melalui tuhan.
Ayah, tetaplah tersenyum di pangkuanNya. Tunggulah kami yang kini sedang mengantri untuk menjadi sepertimu, menanti panggilan itu karena sesungguhnya yang berjiwa pasti akan merasakan pergi. Nantikan Aku yah semoga dalam waktu dekat aku akan menyusul mu ke alam sana dan Semoga kita bisa dipertemukan lagi di surgaNya.(red)












