BeritaPendidikan

Model Blended Learning untuk Generasi Digital Yulistina Nur DS

×

Model Blended Learning untuk Generasi Digital Yulistina Nur DS

Sebarkan artikel ini

KARAWANG || ONTV.CO.ID – Di Indonesia terdapat 84,4 juta penduduknya adalah anak-anak yang berada di bawah usia 18 tahun, anak-anak ini yang diharapkan menjadi generasi Indonesia Emas Tahun 2045. Indonesia Emas 2045 adalah upaya membangun generasi emas, yakni menyiapkan suatu generasi bangsa Indonesia pada 100 tahun usia Indonesia merdeka (1945 – 2045). Generasi ini diharapkan memiliki daya saing tangguh dalam ketatnya persaingan global, cerdas dan mau menerima perubahan. Salah satu pilar penting untuk mewujudkan mimpi ini adalah dunia pendidikan.

Sampai saat ini sistem pendidikan kita masih tertinggal dari negara lain. Hal tersebut terlihat dari angka Programme for International Student Assessment (PISA) yang merupakan program internasional tiga tahunan yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk menilai dan mengukur kemampuan siswa pada usia 15 tahun. Penilaian PISA fokus pada tiga kemampuan yaitu membaca, matematika dan literasi sains.

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Berikut adalah ringkasan data peringkat kemampuan siswa Indonesia dalam mengikuti PISA.

Tahun Banyak Negara Peringkat Skor Skor Rata-Rata Internasional
2000 41 39 367 500
2003 39 38 360 500
2006 57 50 391 500
2009 65 61 371 496
2012 65  64 375 495
2015 70 63 386 490
2018 78 72 379 489

(Sumber: OECD 2003, 2004, 2007, 2010, 2014, 2016a, 2019)

Sedangkan untuk pencapaian skor kemampuan siswa di beberapa negara ASEAN pada PISA 2018 adalah sebagai berikut.

Negara Kemampuan Membaca Kemamuan Matematika Kemampuan
Sains
filipina 339 352 357
Thailan 392 396 360
Indonesia 371 379 396
Malaysia 415 440 438
ASEAN 413  431 433

(Sumber: Puspendik, 2019)

Berdasar pada hasil keikutsertaan Indonesia tersebut, kita menyadari kemampuan siswa Indonesia masih di bawah rata-rata dan sistem pendidikan Indonesia masih tertinggal dengan negara lain. Tentunya banyak yang harus dibenahi, selain memperbaiki kurikulum dengan melahirkan kurikulum merdeka, juga harus dibarengi dengan peningkatan Profesionalisme guru. Guru sebagai penentu utama keberhasilan sebuah kurikulum dan penentu utama dalam mempersiapkan peserta didik untuk mampu menghadapi Indonesia Emas 2045.

Kompetensi Profesionalisme guru merupakan kemampuan guru dalam menguasai pembelajaran yang mencakup ke dalam aspek perencanaan, implementasi dan evaluasi pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran guru tidak hanya dituntut menguasai mata pelajaran yang diampunya, namun harus mampu mengembangkan pembelajaran secara kreatif, salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan peserta didik.

Model pembelajaran merupakan kerangka kerja yang memberikan gambaran sistematis untuk pelaksanaan pembelajaran agar membantu belajar siswa dalam tujuan yang ingin dicapai. Ada banyak jenis model pembelajaran, namun dalam tulisan ini penulis memilih model pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi sebagai model pembelajaran yang harus dikuasi oleh para guru sekarang ini.

Mengingat kondisi sekarang tidak dapat terpisahkan dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), maka guru dituntut untuk dapat menguasai model pembelajaran berbasis teknologi atau digital tersebut, begitu juga dengan sekolah dituntut untuk menyediakan perangkat teknologi yang dibutuhkan untuk menunjang proses penerapan model pembelajaran berbasis ICT itu.

Salah satu model pembelajaran yang berbasis digital atau ICT yaitu model blended learning. Menurut Throne (2013) blended learning sebagai campuran dari teknologi e-learning dan multimedia, seperti vidio streaming, virtual class, animasi teks online yang dikombinasikan dengan bentuk-bentuk pelatihan di kelas. Selain itu menurut Idris Husni (2011) menyatakan bahwa model pembelajaran blended adalah suatu model pembelajaran yang mengkombinasikan metode pengajaran face to face dengan metode pengajaran berbantukan komputer baik secara offline maupun online untuk membentuk suatu pendekatan pembelajaran yang berintegrasi. Blended learning dapat dikenal dengan istilah hybrid course.

Blended learning dapat membantu siswa untuk berkembang lebih baik di dalam proses belajar, sesuai dengan gaya belajar dan preferensinya masing-masing, menyediakan peluang praktis dan realistis bagi guru dan siswa dalam pembelajaran mandiri. Adapun kegiatan pembelajaran dalam blended learning mencakup pembelajaran secara online, pembelajaran tatap muka di ruang kelas dan e-learning (aktivitas yang dilakukan dengan pemanfaatan software pengelolaan konten pembelajaran).

Sudah banyak penelitian yang dilakukan oleh para pakar pendidikan, bahwa model blended learning dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, belajar lebih menyenangkan dan fleksibel. Mengingat zaman yang sudah digitalisasi seperti ini, serta sarpras yang ada di sekolah pun sudah memadai untuk menerapkan model pembelajaran blended. Jadi, model blended learning cocok diimplementasikan di tingkat sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi.

Yulistina Nur DS
Dosen Prodi PGSD Universitas Buana Perjuangan Karawang
Mahasiswa Program S.3 Ilmu Pendidikan UNTIRTA Serang, Banten

ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara
ONTV - Gerbang Informasi Nusantara

Tinggalkan Balasan