LOMBOK TIMUR- NTB || ONTV.CO.ID — Ketua Dewan Kesenian Lombok Timur (DK Lotim), Ashwan Kailani, mengenang perjalanan panjang pembentukan lembaga ini sejak 2019. Upaya para pelaku seni dalam membentuk wadah bersama sempat mengalami kendala, namun ia menyebut fase tersebut sebagai “gerbong pertama,” sebuah langkah awal yang penting sebelum akhirnya mendapatkan momentum pada 2022.
Ashwan, yang memiliki impian mendirikan “rumah besar” bagi seni dan budaya di Lombok Timur, mendapat dukungan penuh dari Bupati saat itu, Haji Sukiman Azmy, serta tokoh pembina seperti H. Gufron dan Murjoko.
Meski perjalanan pembentukan DK Lotim tidak selalu mulus, dengan adanya gejolak dan penolakan dari berbagai pihak, ia terus melangkah. Setelah berdiskusi dengan seniman, ia diminta oleh Bupati untuk segera menyusun struktur organisasi serta melengkapi administrasi yang diperlukan.
Hal tersebut disampaikan dalam sebuah Podcast yang bertajuk, ” Lombok Timur Menju Dewan Kesenian yang SMART”.
Dukungan Pemerintah dan Tantangan yang Dihadapi
Meski mendapat apresiasi dari pemerintah daerah, dukungan masih bersifat non-materi. Pada masa transisi kepemimpinan saat ini, komunikasi dengan instansi pemerintah menjadi lebih kompleks. Ashwan mengungkapkan situasi tersebut dengan metafora, “Kami sudah lapar, berikan kami nasi dua atau tiga piring,” menegaskan kebutuhan akan perhatian lebih dari pemerintah terhadap DK Lotim.
Salah satu agenda yang tengah dipersiapkan adalah festival tahunan “Berayan Seni”, yang akan diadakan setiap libur panjang sekolah. Festival ini bertujuan memperkuat interaksi antar pelaku seni sekaligus membuka ruang apresiasi yang lebih luas bagi masyarakat.
Selain itu, DK Lotim terus berupaya membangun jaringan dengan dewan kesenian di berbagai daerah, termasuk keikutsertaan Ashwan dalam Pekan Kebudayaan Nasional di Jakarta, yang mempertemukannya dengan lebih dari 270 dewan kesenian se-Indonesia.
Pada Desember 2023, DK Lotim bahkan dipercaya menjadi bagian dari steering committee dalam Musyawarah Nasional Dewan Kesenian dan Kebudayaan di Jakarta, sebuah pencapaian besar yang meningkatkan eksistensi mereka di tingkat nasional.
Harapan dan Masa Depan Dewan Kesenian Lombok Timur
Meski belum memiliki capaian program yang maksimal, DK Lotim mulai membuka ruang komunikasi dengan komunitas seni yang membutuhkan dukungan. Ashwan juga menyoroti adanya istilah “Dewan Kebudayaan,” yang menurutnya belum sepenuhnya relevan, karena kesenian sudah mencakup bagian integral dari kebudayaan itu sendiri.
Ke depan, DK Lotim berharap mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah—bukan sekadar apresiasi, tetapi pengakuan nyata terhadap kerja-kerja yang telah dilakukan.
Ashwan bahkan membayangkan terbentuknya Dinas Khusus Kebudayaan di Lombok Timur, sebuah institusi yang secara struktural dan fungsional mampu menjawab kebutuhan pemajuan seni dan budaya di wilayah tersebut.
Dengan semangat yang terus menyala, perjalanan DK Lotim menuju visi besar mereka masih terus berlanjut. Meski penuh tantangan, langkah demi langkah mereka tempuh demi memastikan bahwa seni dan budaya di Lombok Timur mendapatkan tempat yang layak di tengah masyarakat.(den)
