LOMBOK TIMUR-NTB || ONTV.CO.ID – Ketua Barisan Pemuda Nusantara Lotim, Saparwadi (Wadik), mendesak pemerintah daerah untuk melestarikan sejarah Bandara Rambang dan mengembalikan tanah rakyat yang terdampak pengalihfungsian lahan. Dalam konteks instruksi presiden terkait ketahanan pangan, ia mempertanyakan kebijakan yang justru merampas tanah masyarakat demi proyek tambak berskala besar.
Sejarah Rambang mencatat peran penting dalam penerbangan internasional sejak tahun 1930-an. Salah satu peristiwa monumental terjadi pada 1936, saat Jean Batten, pilot perempuan legendaris asal Selandia Baru, singgah di Rambang dalam perjalanannya memecahkan rekor penerbangan dari London ke Auckland. Sebelum hadirnya Bandara Selaparang dan Bandara Internasional Lombok (ZAM), Rambang telah menjadi bagian dari jaringan penerbangan global.
Namun, alih fungsi Rambang menjadi proyek tambak yang melibatkan pihak asing dinilai sebagai bentuk penghapusan sejarah dan pengabaian terhadap hak rakyat. “Kami akan memulai perlawanan, termasuk mengajukan audensi dengan DPR RI untuk membahas hal ini lebih lanjut,” ungkap Wadik.
Selain menjadi bagian dari sejarah penerbangan dunia, Rambang kini menjadi simbol perjuangan agraria masyarakat Lombok Timur. Alih fungsi lahan dianggap tidak hanya mengabaikan kelestarian lingkungan, tetapi juga menghilangkan jejak sejarah yang semestinya dilestarikan sebagai identitas budaya daerah.
Masyarakat dan pemerhati sejarah menuntut pemerintah untuk menetapkan Rambang sebagai cagar budaya. Selain itu, mereka mendesak adanya audit publik terhadap proyek tambak guna memastikan bahwa hak tanah rakyat tetap terlindungi.
Sejarah Rambang bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi warisan yang memiliki nilai bagi identitas lokal dan perjuangan rakyat. Dalam waktu dekat, Barisan Muda Nusantara Lotim bersama elemen masyarakat akan memperjuangkan isu ini secara lebih luas untuk mendapatkan perhatian pemerintah pusat.(den)
