KARAWANG || ONTV.CO.ID – Komoditas sarang burung walet yang dahulu dijuluki “emas putih” kini mengalami keterpurukan harga yang signifikan. Jika pada awal 2000-an harga sarang walet mencapai Rp17 juta per kilogram, saat ini hanya berkisar Rp4–5 juta. Penurunan ini membuat banyak peternak walet terpukul, terutama di wilayah-wilayah sentra produksi seperti Karawang dan Subang.
Khaerudin, warga Desa Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, yang pernah menjaga rumah walet selama hampir satu dekade, menyebutkan bahwa penurunan harga mulai terasa sejak krisis moneter dan semakin tajam pada 2007–2008. “Dulu sarang walet itu emas putih, sekarang malah bikin galau peternaknya,” ujarnya.
Harga Tak Seindah Dulu
Menurut data dari CNBC Indonesia, Indonesia menyumbang sekitar 60 persen pasokan sarang walet dunia, dengan nilai ekspor mencapai Rp9,8 triliun pada 2023. Namun, harga yang diterima peternak lokal jauh dari nilai ekspor tersebut. Rantai distribusi panjang dan minimnya akses langsung ke pasar luar negeri membuat keuntungan petani tergerus.
Harga sarang walet saat ini sangat bervariasi tergantung bentuk dan kualitas:
Jenis Sarang Harga per Kg (Juli 2025)
- Mangkuk putih premium Rp20–25 juta
- Mangkuk standar Rp12–15 juta
- Segitiga Rp8–10 juta
- Patahan / hancuran Rp5–8 juta
- Sarang kotor (belum dibersihkan) Rp3–5 juta
Faktor Wilayah dan Kualitas
Kualitas sarang walet sangat dipengaruhi oleh lokasi geografis:
- Wilayah utara Jawa dikenal sebagai penghasil “walet lokal” dengan harga lebih rendah.
- Wilayah selatan Jawa menghasilkan sarang dengan kualitas lebih tinggi dan harga lebih mahal.
- Pulau Bangka menjadi daerah dengan harga sarang walet tertinggi karena warna, aroma, dan kebersihannya yang alami.
Kapinis: Sekutu atau Ancaman?
Dalam upaya mempercepat pembiakan, sebagian peternak memanfaatkan burung kapinis rumah (Apus affinis) sebagai induk asuh.
“Telur kapinis ditukar dengan telur walet di dalam sarangnya. Itu bisa menstimulasi burung walet untuk berkembang biak lebih cepat,” jelas Khaerudin.
Namun, populasi kapinis yang berlebihan justru menjadi ancaman. Burung ini bersifat kompetitif dan dapat mengusir walet dari sarang buatan. Meski sarang kapinis juga memiliki nilai jual, harganya hanya sekitar Rp10.000 per sarang di pasar daring—jauh di bawah nilai sarang walet.
Ancaman Lain: Hama dan Predator
Peternak juga menghadapi berbagai gangguan biologis yang menghambat produksi:
- Kecoa dan semut api: Merusak sarang dan memangsa telur.
- Tokek dan cicak: Memangsa anakan walet.
- Kalong dan burung hantu: Predator malam yang menimbulkan stres pada koloni walet.
Harapan Peternak: Regulasi dan Akses Pasar
Peternak berharap adanya:
- Intervensi pemerintah untuk membuka akses ekspor langsung dan menyederhanakan regulasi.
- Standardisasi harga di tingkat petani.
- Pelatihan teknologi budidaya dan pascapanen untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dalam kunjungannya ke Surabaya awal tahun ini menyatakan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan kontribusi ekspor sarang walet Indonesia hingga 65 persen dari pasar global.(Ns)
