SUBANG-JABAR || ONTV.CO.ID – Pembangunan rumah milik Abah Amad, warga Dusun Panjalin RT 03/RW 06 Desa Dukuh, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, terpaksa dihentikan setelah lima hari pengerjaan. Rumah yang sebelumnya sudah reot dan dibongkar kini tidak bisa dilanjutkan karena kekurangan material kayu.
Bantuan Tidak Mencukupi
Material yang sebelumnya diberikan oleh anggota DPRD Subang, Mugni dari Partai Demokrat, serta H. Adik dari Partai PDIP, ternyata tidak mencukupi kebutuhan. Akibatnya, pekerjaan terpaksa dihentikan karena stok bahan bangunan sudah habis.
Relawan Kesulitan Cari Dukungan
Kang Kaya, tokoh pemuda Dusun Panjalin sekaligus relawan bedah rumah, mengungkapkan kebingungan para relawan.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin mencari bantuan. Saya sudah coba menghubungi kembali Bapak Dewan Mugni, tapi nomor HP sudah tidak aktif. Lalu saya hubungi Bapak H. Adik melalui Kadus Dukuh Girang Hendi, tapi tidak ada respon. Kami bingung harus ke mana lagi meminta bantuan,” ujarnya kepada awak media, Jumat (31/7/2026).
Relawan berharap ada perhatian dari para donatur maupun instansi terkait agar pembangunan rumah Abah Amad bisa kembali dilanjutkan.
Kondisi Keluarga Memprihatinkan
Pantauan awak media di lokasi menunjukkan, setelah rumah dibongkar, Abah Amad bersama anak dan cucunya terpaksa tidur di luar rumah. Saat malam, mereka kerap kedinginan.Suti Handayani, cucu Abah Amad yang berusia 14 tahun dan duduk di kelas VIII SMP, mengaku tetap memilih tidur di rumah meski tanpa atap.
“Sejak rumah dibongkar, saya tidur di luar. Kalau malam memang sangat dingin. Banyak tetangga yang mengajak tidur di rumah mereka, tapi saya tidak biasa menginap di rumah orang. Walaupun rumah kakek sudah reot, saya tetap tinggal di sini,” ucap Suti dengan wajah sedih.
Harapan ke Depan
Kisah Abah Amad dan keluarganya menjadi potret nyata warga yang membutuhkan uluran tangan. Relawan berharap agar pemerintah daerah, lembaga sosial, maupun masyarakat luas dapat memberikan bantuan material sehingga rumah Abah Amad bisa kembali berdiri dan layak huni.
(Bebeng)
