Dedi Mulyadi Jawab Tudingan ‘One Man Show’ dalam Kepemimpinannya

BANDUNG || ONTV.CO.ID – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menanggapi tudingan bahwa dirinya menjalankan pemerintahan secara “one man show” atau terlalu terpusat pada dirinya sendiri. Dalam rapat paripurna DPRD Jawa Barat pada Kamis (22/5/2025), KDM menegaskan bahwa langkah-langkah yang ia ambil bertujuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Jawa Barat secara cepat dan efektif.

“Tetapi yakinlah bahwa apa yang kami lakukan selama ini, langkah-langkah yang seringkali kontroversial, langkah-langkah yang seringkali dianggap one man show, sesungguhnya adalah langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah,” ujar KDM dalam rapat tersebut.

Ia mencontohkan kebijakan penutupan tambang ilegal yang dilakukan tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan jajaran pemerintahan. Menurutnya, jika operasi tersebut dirapatkan terlebih dahulu, maka informasi bisa bocor dan pelanggar lingkungan akan menghindari tindakan hukum sebelum operasi dilakukan.

Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, juga membela KDM dengan menyatakan bahwa setiap kebijakan yang diambil telah melalui perumusan, riset, dan kajian mendalam sebelum dieksekusi. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan KDM bukanlah tindakan sepihak, melainkan hasil kerja sama tim yang solid.

“Di balik keputusan KDM, ada perencanaan, ada kajian cepat dari sisi yuridis, sosiologis, dan filosofis, termasuk soal anggaran. Jadi tidak ada kesan one man show, semua dilakukan bersama-sama,” jelas Herman.

KDM sendiri menegaskan bahwa pendekatan yang ia gunakan dalam memimpin Jawa Barat adalah pendekatan kebapaan, di mana ia berusaha dekat dengan masyarakat dan memahami persoalan mereka secara langsung. Ia bahkan menyebut dirinya kadang berperan sebagai ketua RT, RW, atau kepala desa, agar lebih mudah berkomunikasi dengan warga.

Hingga saat ini, gaya kepemimpinan KDM terus menuai beragam respons. Ada yang menganggapnya sebagai pemimpin yang tegas dan cepat bertindak, sementara sebagian pihak tetap mengkritik pendekatannya yang dinilai terlalu sentralistik.***

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan