Refleksi HUT Kota Mataram Edisi 2: Dari Ampenan ke Metro Mataram, Jejak Transformasi Kota

MATARAM-NTB || ONTV.CO.ID — Dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Mataram, refleksi perjalanan kota ini menjadi momentum penting untuk mengenang, memahami, dan menata arah masa depan. Penulis SW, yang telah menjadi bagian dari Mataram selama 47 tahun, membagikan kisah personal dan historis tentang perubahan wajah kota dari masa ke masa.

Ampenan: Kota Dagang yang Pernah Berjaya

Pada tahun 1978, satu tahun setelah pelabuhan dipindahkan dari Ampenan ke Lembar, SW dan keluarganya menetap di Kampung Melayu Bangsal. Saat itu, Ampenan masih menyimpan sisa kejayaan sebagai kota dagang: pertokoan, bioskop, gudang besar, dan kantor perusahaan masih aktif. Transportasi umum dilayani oleh bemo kotak kecil, kemungkinan bermerek Daihatsu, yang melintasi jalur utama dari Terminal Ampenan (kini Taman Jangkar) ke Terminal Cakra (sekarang Hotel Lombok Plaza).

Namun, seiring berkurangnya sirkulasi orang dan barang, Ampenan mulai meredup. Pusat niaga bergeser ke Cakra, meski butuh waktu untuk menyamai kemajuan Ampenan.

Senggigi dan Dampaknya pada Ampenan

Tahun 1985, dibukanya kawasan wisata Senggigi sempat menjadi angin segar bagi Ampenan karena jalur utama ke Senggigi melewati kota ini. Sayangnya, kerusuhan SARA tahun 2000 turut memukul sektor pariwisata dan memperlemah ekonomi lokal Ampenan.

Hingga kini, Ampenan masih berjuang untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi yang datang tiba-tiba.

Transformasi Kota Mataram: Dari Desa ke Metro

SW melanjutkan kisahnya saat bersekolah di SMA Ampenan tahun 1983, ketika sub-sub kota masih terpisah oleh hamparan persawahan. Namun sejak tahun 2000-an, Kota Mataram berkembang pesat. Wilayah yang dulunya terpisah kini menyatu oleh pembangunan. Kota yang dulu berwajah desa kini menjelma menjadi kota metropolitan.

Tantangan pun muncul: kemacetan di titik-titik padat, hilangnya lahan hijau, dan langkanya transportasi umum seperti bemo kuning dan cidomo. Transportasi online kini menjadi andalan warga.

Gaya Hidup dan Dinamika Ekonomi

Gaya hidup warga Mataram juga berubah. Warung kopi bergeser ke café dan mall. Pilihan kuliner semakin beragam, mendorong pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Namun, persaingan bisnis juga makin ketat. Mataram Mall yang dulu ramai kini sepi, dan banyak pertokoan tutup akibat kompetisi dengan pusat belanja lain dan e-commerce.

47 Tahun Bersama Kota Mataram

SW menutup refleksi ini dengan rasa syukur telah menjadi saksi hidup perkembangan Kota Mataram selama 47 tahun. Dari suasana desa yang tenang hingga hiruk-pikuk kota metropolitan, terlalu banyak kenangan dan dinamika yang tak bisa dirangkum dalam satu edisi.

“Terlalu banyak yang harus saya memorikan di ruang yang terbatas ini. Untuk itu saya akan coba lanjutkan di edisi berikutnya.” — SW

(den)

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan