KWT Blonyon Tanjung Tiga Dapat Sorotan Soal Transparansi Dana Program Desa Kebun

SUBANG-JABAR || ONTV.CO.ID – Kelompok Wanita Tani (KWT) Blonyon yang berlokasi di Dusun Sumur Sapi 2, Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menghadapi kegagalan dalam pengembangan bibit cabai yang menjadi bagian dari Program Desa Kebun B25A. Program ini merupakan inisiatif dari Dinas Ketahanan Pangan (DISKETPAN) Kabupaten Subang dengan total anggaran sebesar Rp75 juta, disalurkan dalam dua tahap.

Tahap Pertama Dana Sudah Terserap

Pada Juni 2025, KWT Blonyon menerima dana tahap pertama sebesar Rp38.490.000. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan kebun bibit, pengadaan perlengkapan demplot, pelatihan teknis (bimtek), serta pembelian alat makan dan pengolahan pangan. Dana tahap kedua dijadwalkan cair setelah laporan pertanggungjawaban (SPJ) tahap pertama diterima oleh dinas terkait.

Bibit Tersedia, Tapi Tanaman Mati

Menurut Cariwan, suami dari Ketua KWT Blonyon Yulia Citra, kelompok ini memiliki 10 anggota aktif yang telah menerima bibit cabai dan sawi untuk ditanam. Selain itu, media tanam seperti tanah merah, pupuk kandang, dan sekam juga telah disiapkan. Bahkan, bibit sayuran seperti kangkung, bayam, dan pare tersedia untuk masyarakat Dusun Sumur Sapi 1 dan 2.

Tak hanya itu, KWT Blonyon juga mengembangkan budidaya benih ikan lele sebanyak 1.000 ekor dengan ukuran 2–5 cm.

Namun, hasil survei awak media ke lokasi menunjukkan kondisi yang memprihatinkan:

  • Tanaman cabai dan sayuran banyak yang mati
  • Ternak lele tidak berkembang optimal
  • Area kebun tampak kurang perawatan dan penyiraman

Dugaan Minimnya Transparansi

Ketika dimintai data anggota kelompok sesuai RAB, Ketua KWT Blonyon enggan memberikan dokumen tertulis dan hanya menyampaikan informasi secara lisan melalui suaminya. Hal ini memicu dugaan kurangnya transparansi dalam pengelolaan dana program.

Faktor Cuaca atau Kelalaian?

Menanggapi kondisi tersebut, Cariwan menyebut cuaca panas sebagai salah satu penyebab gagalnya pertumbuhan tanaman cabai. Ia dan istrinya berjanji akan melakukan penanaman ulang dan perawatan yang lebih baik ke depan.

“Kami akan tanam ulang dan rawat dengan semestinya,” ujar Yulia Citra kepada awak media, Senin (25/8/2025).

Harapan untuk Perbaikan

Program Desa Kebun B25A seharusnya menjadi peluang emas bagi pemberdayaan perempuan dan ketahanan pangan lokal. Namun, keberhasilan program sangat bergantung pada transparansi, pengawasan, dan komitmen kelompok dalam menjalankan kegiatan secara profesional.

(Bebeng)

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan