Pilunya Hidup Wastini dan Anak ODGJ di Subang, Makan dari Sisa MBG

SUBANG, JAWA BARAT II ONTV.CO.ID – Kisah kehidupan Wastini (66), warga Dusun Ketileng, RT 04/RW 01, Desa Cilamaya Hilir, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menggambarkan kondisi warga yang masih membutuhkan perhatian dan kepedulian.

Wastini tinggal bersama putranya, Budi (44), yang menurut keterangan keluarga telah mengalami gangguan kesehatan mental selama sekitar 15 tahun. Keduanya menempati sebuah rumah yang disebut dalam kondisi tidak layak huni.

Ironisnya, Wastini mengaku belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, baik bantuan pangan beras, Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), maupun bantuan lainnya.

Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Wastini bahkan mengaku kerap meminta makanan berlebih atau sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikumpulkan di sekolah dasar.

Saat ditemui awak media di kediamannya, Selasa (22/9/2026), Wastini menceritakan kondisi kehidupan yang dijalaninya bersama sang anak.

“Di rumah ini kami tinggal berdua dengan anak saya, Budi. Kesehatannya terganggu. Budi sudah sekitar 15 tahun mengalami depresi, tetapi dia tidak mengganggu orang,” ujar Wastini.

Menurut Wastini, Budi terkadang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan tidur. Namun, pada waktu tertentu ia juga pergi keluar rumah tanpa diketahui tujuan.

“Kadang seharian tidur, kadang pergi keluar entah ke mana. Emak juga tidak tahu. Kalau dilarang bepergian, dia malah ngamuk. Emak takut, jadi dibiarkan saja,” tuturnya.

Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat Wastini harus berupaya keras untuk mendapatkan makanan bagi dirinya dan anaknya.

“Untuk makan sehari-hari, emak selalu meminta makanan sisa anak-anak yang tidak habis. Dikumpulkan, kemudian emak bawa pulang untuk makan emak dan anak emak,” ungkapnya dengan nada sedih.

Selain persoalan ekonomi dan tempat tinggal, Wastini juga menyampaikan bahwa Budi hingga kini belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Menurutnya, kondisi tersebut turut menjadi kendala dalam pengurusan berbagai kebutuhan administrasi dan akses bantuan.

“Jujur saja, anak emak, Budi, tidak memiliki KTP. Karena baik Pak RT maupun yang lainnya takut Budi akan ngamuk,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Wastini berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada dirinya dan anaknya, terutama agar mereka bisa memperoleh bantuan sosial serta mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kondisi Budi.

“Emak berharap orang yang seperti kami ini diperhatikan agar bisa mendapat bantuan dari pemerintah,” ucap Wastini dengan raut wajah sedih dan penuh harap.

Kisah Wastini dan Budi menjadi gambaran bahwa masih terdapat warga yang membutuhkan perhatian, baik dalam pemenuhan kebutuhan dasar, administrasi kependudukan, kondisi tempat tinggal, maupun akses terhadap program perlindungan sosial.

Diharapkan pihak terkait dapat melakukan pendataan dan verifikasi secara langsung untuk memastikan kondisi keduanya serta menentukan bentuk bantuan dan pendampingan yang sesuai berdasarkan ketentuan yang berlaku. (Bebeng)

 

 

 

 

 

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan