OPINI || ONTV.CO.ID – Di berbagai penjuru negeri, geliat pembangunan desa menjadi pemandangan yang menggembirakan. Dana desa yang digulirkan setiap tahun membuka peluang bagi desa untuk tumbuh secara mandiri, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan kualitas hidup warganya. Namun, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: apakah kemajuan desa cukup hanya dengan membangun jalan beton dan gedung megah?
Sayangnya, dalam banyak kasus, pembangunan masih terlalu berorientasi pada fisik. Desa yang disebut “maju” adalah desa yang memiliki jalan bagus, gedung kantor desa yang baru, atau lapangan serbaguna yang luas. Padahal, hakikat pembangunan tidak sekadar terletak pada apa yang tampak secara kasat mata, melainkan pada bagaimana manusia-manusia di dalamnya tumbuh secara utuh: cerdas, berdaya, dan bermartabat.
Pembangunan Sejati Berpusat pada Manusia
Dalam bukunya Development as Freedom, peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen menyatakan bahwa pembangunan adalah proses memperluas kebebasan manusia untuk menjalani hidup yang mereka nilai berharga. Sen menekankan bahwa pembangunan tidak boleh sekadar dilihat dari pertumbuhan ekonomi atau pencapaian fisik, melainkan dari meningkatnya kemampuan manusia untuk memilih, bertindak, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.
“Pembangunan bukan hanya membangun gedung, tapi membangun jiwa dan akal manusia,” tulis Sen.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) harus menjadi fondasi dalam setiap program pembangunan desa. Infrastruktur bisa rusak dan usang, tapi manusia yang cerdas dan berkarakter akan mampu menciptakan perubahan berkelanjutan.
Realita di Lapangan: Ketimpangan Fokus Pembangunan
Banyak desa di Indonesia saat ini menunjukkan geliat pembangunan fisik yang luar biasa: jalan-jalan diperkeras, kantor desa diperluas, fasilitas publik dibangun. Namun ironisnya, pembangunan sumber daya manusia belum mendapat perhatian yang proporsional. Salah satu contohnya bisa dilihat dari rendahnya alokasi anggaran untuk sektor pendidikan nonformal, seperti untuk para guru ngaji, pelatihan remaja, dan kegiatan literasi masyarakat.
Dalam beberapa kasus, honor guru ngaji hanya mendapat anggaran beberapa juta rupiah per tahun, jauh di bawah anggaran proyek fisik yang bisa mencapai ratusan juta. Padahal, para guru ngaji inilah yang selama ini menjadi garda terdepan dalam membina akhlak anak-anak, mengenalkan nilai-nilai agama, serta menjaga moralitas sosial.
Jika peran mereka diabaikan, maka infrastruktur sebagus apa pun tidak akan bermakna dalam jangka panjang.
Kualitas SDM: Pilar Keberlanjutan Pembangunan
Prof. Dr. Haryono Suyono, tokoh pembangunan berbasis masyarakat, pernah menekankan:
“Pembangunan sejati adalah pembangunan yang memampukan rakyatnya untuk menentukan nasib sendiri, bukan hanya sebagai penerima bantuan.”
Artinya, desa yang maju bukan desa yang dipenuhi proyek, melainkan desa yang warganya cerdas, produktif, dan mandiri. SDM berkualitas akan menjaga aset desa, merawat fasilitas umum, memanfaatkan peluang ekonomi, dan berpartisipasi aktif dalam perencanaan pembangunan.
Sementara itu, Ki Hajar Dewantara telah lama meletakkan dasar penting bahwa pendidikan bukan semata-mata untuk mencerdaskan otak, tapi untuk membentuk budi pekerti dan karakter. Jika sektor pendidikan nonformal tidak diberi perhatian, maka generasi desa ke depan berisiko kehilangan akar moral dan nilai-nilai kebersamaan.
Pemerintah Desa Harus Mengubah Paradigma
Pemerintah desa, sebagai pemegang kendali anggaran dan perencana pembangunan, sudah saatnya mengubah cara pandang. Pembangunan fisik memang penting, tapi pembangunan manusia jauh lebih strategis dalam jangka panjang.
Beberapa langkah konkret yang bisa diambil adalah:
- Meningkatkan alokasi dana untuk pendidikan informal, termasuk guru ngaji, pelatihan remaja, dan program literasi.
- Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam musyawarah desa untuk menyuarakan kebutuhan non-fisik.
- Mengembangkan program pelatihan produktif berbasis potensi lokal (pertanian, UMKM, digitalisasi desa).
- Menghidupkan kembali nilai gotong royong, solidaritas sosial, dan pendidikan karakter.
Pemerintah desa juga perlu sadar bahwa membangun manusia berarti membangun masa depan. Jalan bisa dibangun ulang, gedung bisa direnovasi, tapi kehilangan generasi yang berilmu dan berakhlak tidak bisa ditebus dengan beton atau besi.
Desa Cerdas adalah Desa yang Memanusiakan Manusia
Kemajuan sejati sebuah desa tidak diukur dari banyaknya proyek yang diresmikan, tapi dari bagaimana manusia di dalamnya tumbuh, berpikir kritis, hidup mandiri, dan menjunjung nilai kemanusiaan. Desa yang hanya fokus pada infrastruktur akan kehilangan ruhnya sebagai komunitas yang hidup dan bermartabat.
Sudah saatnya memuliakan guru ngaji, mendukung penggerak literasi, serta menghidupkan ruang belajar bagi anak-anak dan remaja. Hanya dengan cara itu, desa bisa benar-benar disebut “maju”—bukan hanya karena jalan aspalnya mulus, tapi karena manusia di dalamnya mulia.
“Pembangunan manusia adalah pondasi dari segala pembangunan. Tanpa manusia yang cerdas dan bermoral, infrastruktur hanya menjadi monumen kosong.” Dr. Sonny Keraf, Tokoh Pembangunan Berkelanjutan
Semoga ke depan para pemangku kebijakan desa sadar bahwa membangun manusia bukanlah pilihan, tapi keharusan. Infrastruktur penting, namun sumber daya manusia jauh lebih penting. Wallahu A’lam…
