MANDALIKA-NTB || ONTV.CO.ID — Ratusan pedagang kecil di kawasan wisata Pantai Tanjung Aan, Lombok Tengah, NTB, harus menerima kenyataan pahit setelah lapak dagangan mereka digusur aparat. Di antara mereka, seorang ibu bernama Kartini menjadi simbol kepedihan warga terdampak.
Dengan suara yang bergetar dan air mata yang tak terbendung, Kartini—pemilik Warung Aloha yang mempekerjakan 60 karyawan—berteriak di hadapan aparat.
“Kami di sini tidak dianggap sebagai warga Indonesia. KTP kami sia-sia,” ujarnya.
Penggusuran dilakukan oleh sekitar 700 personel gabungan, mulai dari Kepolisian, TNI, Satpol PP, Vanguar hingga aparat desa. Mereka diturunkan untuk menertibkan lapak warga atas nama pembangunan hotel yang belum dimulai oleh investor.
“Kalau demi kesejahteraan rakyat, kenapa kami yang digusur lebih dulu, sementara lahan di belakang masih kosong?” ucap Kartini penuh pilu.
Menurut warga, belum ada upaya dialog dari pihak pengelola, ITDC, sebelum tindakan penggusuran dilakukan. Mereka merasa suara masyarakat lokal diabaikan demi pembangunan besar yang menyisihkan kehidupan rakyat kecil.
Ketegangan meningkat ketika salah satu pedagang menolak keras pembongkaran. Reaksi warga pun menjalar ke Mataram, tempat ratusan mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan Majapahit dalam aksi solidaritas.
“Kami melakukan aksi sebagai respon cepat atas perlakuan aparat terhadap rakyat,” tegas Ahmad Badawi, koordinator aksi.
Pijai, salah satu orator lain, menyerukan bahwa pergusuran tak manusiawi seperti ini terjadi di berbagai daerah dan bisa menimpa siapa saja:
“Kalau kita diam, mungkin kita yang jadi korban berikutnya.”
(Biro-KSB)
