INTERNASIONAL || ONTV.CO.ID — Ketegangan antara India dan Pakistan kini merambah ke dunia maya, dengan kedua negara saling melancarkan serangan siber terhadap situs pemerintahan dan militer masing-masing.
Kelompok hacker yang berbasis di Pakistan diduga telah melakukan serangan terhadap situs militer India, termasuk sekolah dan portal veteran. Serangan ini mencakup peretasan situs, penyebaran malware phishing, dan defacement halaman web dengan pesan propaganda.
Sebagai respons, kelompok hacker India yang menamakan diri Cyber Commander mengklaim telah meretas lebih dari 1.500 situs Pakistan, termasuk portal pemerintahan, universitas, dan sistem registrasi kendaraan. Mereka meninggalkan pesan di situs yang diretas dengan slogan “Hindustan Zindabad”, serta peringatan kepada Pakistan agar menghentikan propaganda digital.
Menteri Komunikasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengomentari situasi ini dan menyerukan langkah defensif terhadap serangan digital.
“Kami telah mengidentifikasi sumber serangan dan sedang meningkatkan sistem keamanan untuk melindungi infrastruktur digital kami,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Di sisi lain, Menteri TI India, Rajeev Chandrasekhar, mengonfirmasi adanya peningkatan aktivitas siber dari pihak luar dan menegaskan kesiapan India dalam menghadapi ancaman ini.
“Kami tidak akan tinggal diam jika ada upaya yang membahayakan keamanan digital dan kedaulatan negara,” katanya dalam konferensi pers di New Delhi.
Ketegangan ini terjadi setelah insiden serangan di Pahalgam, Kashmir, pada 22 April 2025, yang menewaskan 26 orang dan memicu bentrokan militer di perbatasan. Selain baku tembak di sepanjang Garis Kontrol (LoC), perang cyber kini menjadi bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas.
Pakar keamanan siber memperingatkan bahwa eskalasi ini dapat berdampak pada infrastruktur digital kedua negara, termasuk sistem keuangan dan komunikasi. Pemerintah India dan Pakistan kini meningkatkan langkah-langkah pertahanan siber untuk menghadapi ancaman lebih lanjut.
Situasi masih berkembang, dan dunia internasional terus memantau dampak dari perang cyber ini terhadap stabilitas kawasan.***
