Fenomena Rojali dan Rohana: Sindiran Sosial yang Viral di Pusat Perbelanjaan

WIRAUSAHA || ONTV.CO.ID – Media sosial kembali diramaikan oleh dua istilah unik yang mencerminkan perilaku masyarakat urban: Rojali dan Rohana. Meski terdengar seperti nama orang, keduanya adalah akronim yang kini menjadi bahan candaan sekaligus kritik sosial di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

Apa Itu Rojali dan Rohana?  

  • Rojali: Rombongan Jarang Beli – merujuk pada sekelompok orang yang datang ke mal hanya untuk jalan-jalan, berfoto, atau menikmati fasilitas, tanpa melakukan pembelian.
  • Rohana: Rombongan Hanya Nanya – menggambarkan pengunjung yang sekadar bertanya-tanya soal harga atau produk, tapi tidak berniat membeli.

Viral di Media Sosial  

Istilah ini mencuat lewat konten meme, video satir, dan unggahan netizen yang mengamati perilaku pengunjung mal. Banyak yang mengaku “pernah jadi Rojali” saat dompet menipis tapi tetap ingin menikmati suasana mal. Fenomena ini dianggap sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap tekanan ekonomi, sekaligus pencarian hiburan murah.

Dampak ke Dunia Ritel  

Meski jumlah pengunjung mal meningkat, para pelaku usaha mengeluhkan omzet yang tak sebanding. Ketua APPBI, Alphonzus Widjaja, menyebut bahwa pola belanja masyarakat berubah: lebih selektif, lebih hemat, dan cenderung hanya melihat-lihat.

Sindiran atau Realita?  

Fenomena Rojali dan Rohana bukan sekadar lelucon. Ia mencerminkan realita sosial:

  • Mal sebagai ruang publik yang nyaman dan gratis.
  • Daya beli yang belum pulih pasca pandemi.
  • Perubahan gaya konsumsi ke arah digital dan pengalaman visual.

Respons Pengelola Mal  

Beberapa pusat perbelanjaan mulai merancang strategi agar pengunjung tetap bertransaksi, seperti menghadirkan zona interaktif, promo instan, dan kolaborasi dengan influencer untuk mengubah “Rojali” jadi “Rojali Beli”.

“Fenomena ini bukan sinyal kemiskinan semata, tapi juga cerminan gaya hidup baru masyarakat urban,” ujar analis kebijakan dari Apindo.***

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan