Covid-19 ditakuti karena bisa mematikan, seperti: ‘serangan jantung’, TBC, ‘Flu Burung’, ‘Flu Babi’, dan ‘Demam Berdarah’). Padahal, gejala-gejalanya “biasa-biasa saja”; atau, ‘gejala-gejala umum’ seperti yang dilansir oleh situs www.covid-19.go.id adalah sebagai berikut: Demam; batuk kering; kelelahan.
Dan, ‘gejala yang sedikit tidak umum’, seperti: rasa tidak nyaman; nyeri tenggorokan; diare; mata memerah (konjungtivitis); sakit kepala; ruam pada kulit; warna kulit pada jari tangan dan/atau kaki berubah; dan indera perasa (lidah) dan/atau penciuman (hidung) tak lagi normal seperti biasanya.
Dan, ada lagi “ketakutan” lain dicurigai dan diduga oleh lingkungan sosial sudah “kena Corona’ karena Covid-19 menular — memang, tak semua orang mau memeriksakan ke dokter atau Tim Medis meskipun banyak Klinik, Puskesmas, dan Rumah Sakit.
Kondisinya memang “menakutkan” (mencemaskan) saat ini. Karena, setiap hari (Newsletter Time Health) selalu bertambah adanya kasus pasien positif Covid-19 di mancanegara; juga pasien yang meninggal. Meskipun, pasien yang berhasil disembuhkan juga banyak.
Meskipun, seperti yang dipublikasikan lembaga internasional WHO (World Health Organization) via situs www.who.int/indonesia/news/
Misalnya, melalui program ‘Bersatu Lawan COVID-19’ (bisa diakses via ‘Hotline 119’, aplikasi, dan situs web): sistem informasi terintegrasi untuk meningkatkan percepatan pencatatan data dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia.
Sistem tersebut juga bisa menjembatani alur pendistribusian logistik kepada Rumah Sakit, Laboratorium, dan Dinas Kesehatan. Karena, sistem ini memang dirancang berkat kerja sama dan koordinasi lintas kementerian; lintas institusi; dan lintas sektoral; dibawah koordinasi Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.
Apalagi, seperti keterangan pers Presiden RI Joko Widodo di media dua minggu lalu, Menko Perekonomian RI Hartarto Airlangga sudah dipercayakan sebagai Koordinator Tim Pemulihan Perekonomian. Sehingga, implementasinya bisa paralel-simultan dengan upaya penanggulangan wabah pandemi Covid-19.
Mengingat “hantu corona” masih gentayangan di mana-mana, siap menulari dan “memangsa” siapa saja, tentu saja setiap orang mesti waspada. Apalagi, seperti yang dilansir media internasional Time Health (1 Agustus 2020), Anak-anak juga bisa menjadi “pembawa” dan/atau ‘penular’ Covid-19 — sementara, anak-anak mana paham dan mau peduli.
Jounalist : fathonie Abdullah
